adv1

Monday, April 25, 2016

Pernahkah ada di suatu masa ketika segelintir orang menguasai sebegitu banyak kekayaan?

Hasil penelitian terkini dari oxfam menunjukkan bahwa ketidak setaraan pendapatan telah mencapai angka global yang fantastis, bahkan melebihi prediksi mereka pada tahun lalu. Figur dibalik angka ini cukup mengejutkan – hanya 62 orang yang sekarang menguasai kekayaan setara setengah dasar kemanusiaan, dibandingkan pada tahun 2014 dengan jumlah 80 orang, dan 388 pada 2010. Hal ini muncul bukan hanya karena krisis finansial yang telah di skenario oleh kalangan elit global, tetapi bahwa keberuntungan mereka telah ditingkatkan secara kolektif.

Rasa keberatan kami pada ke-tidak setara-an, dari catatan penelitian, bukan karena keinginan untuk meningkatkan standar kehidupan materi kami sendiri. Munculnya ke-tidak setara-an adalah salah satu tanda yang paling meyakinkan dari gagalnya pertumbuhan ekonomi dalam membuat segala hal menjadi lebih baik untuk kita. Penelusuran kami menunjukkan tidak adanya pembagian penghasilan di bawah 50% sejak 2010 yang berarti bahwa bahkan pemerintah dari seluruh dunia telah bergegas untuk menghebohkan peran mereka dalam “pemulihan” global, yang hadiahnya telah menyebar secara selektif.

Satu hal yang bodoh untuk pura-pura bahwa ke-tidak setara-an kekayaan ini adalah produk dari kapitalisme liberal sejak ratusan tahun yang lalu. Mengendus sepanjang sejarah yang terekam adalah contoh dari kekayaan yang luar biasa yang berasal dari rampasan kerajaan dan peperangan – raja roma caesar augustus diperkirakan telah menguasai kekayaan setara 4,6 triliun dolar – seperlima dari total kekayaan kerajaan. Orang terkaya sepanjang sejarah, menurut majalah time adalah mansa musa, raja dari timbuktu – yang memimpin dari tahun 1280 sampai 1337 ketika kerajaannya menjadi produsen emas terbesar sedunia. Kekayaannya diluar perhitungan: “lebih kaya dari yang dapat dijelaskan siapapun”

Kenyataan sejarah menunjukkan betapa pentingnya militer dan pasukan perang untuk mengumpulkan kekayaan, dari tanah kekuasaan Genghis khan pada abad ke 13 (salah satu kerajaan terbesar sepanjang sejarah), sampai kaisar china shenzong, yang memiliki hingga 30% dari total pendapatan kerajaan ketika puncak kejayaannya pada abad ke 11.

Akumulasi kekayaan pada masyarakat non kapitalis sering diprediksikan pada kejadian penyitaan paksa – yaitu sebuah proses yang dikenal sebagai “akumulasi primitif”. Instansi yang paling terkenal adalah pergerakan perluasan inggris pada abad ke 18 dan 19, yang menghaluskan jalan perluasan menuju tanah jajahan.

Belajar serakah

Tetapi apakah ke-tidak setara-an ini adalah satu hal yang tak terelakkan pada masyarakat kita? Pada akhir abad ke 19, antropologis evolusioner seperti henry maine dan lewis morgan menyarankan bahwa masyarakat pada masanya telah berkembang dari bentuk yang sederhana yaitu masyarakat yang berdasarkan kesukuan, menjadi masyarakat yang lebih komplek yaitu yang berdasarkan pada kelas sosial. Dan pada tahun 2009, elinor ostrom telah mendapat hadiah nobel karena jasanya pada sistem masyarakat “common-pool” – yaitu masyarakat yang sumber dayanya ditampung untuk kebaikan masyarakat itu sendiri, yang sejatinya agak ganjil dengan konsep kepemilikan pribadi modern.

Hasil kerja ostrom menunjukkan bahwa, ketika kondisi sedang menguntungkan, sistem ini, seperti perikanan, sistem irigasi, penggembalaan ternak bersama dan perhutanan, telah berkembang – bahkan mungkin lebih baik dari sistem sejenis yang diupayakan dan diorganisir secara bertingkat. Diskusi ini masih berlanjur hingga kini secara apakah model organisasi sosial ini telah menyebar melintasi sejarah kehidupan manusia dan apakah bentuk ke-tidak sama-an masyarakat modern kita merupakan hasil perkembangan dari dasar egaliter.

Keputusan ini juga mempertimbangkan pertanyaan bahwa apakah masyarakat kita selalu kapitalis sejak dulu. Sementara banyak orang berpendapat bahwa bagian tertentu dari masyarakat kapitalis telah ada pada seluruh sejarah manusia (pernyataan terkenal dari adam smith pada kecenderungan manusia kepada “truk, barter, dan perdagangan”) institusi yang ketika bersama akan membuat kapitalisme modern menjadi bukan kapitalis.

Pada masyarakat feodal ketika abad pertengahan contohnya, kemampuan tiap orang untuk mengumpulkan harta kekayaan sangat dipaksakan oleh jumlah benda yang bisa mereka miliki. Sementara ada bentuk hutang dan sistem keuangan yang telah berkembang, yang meniadakan batas mutlak yang dapat seseorang kumpulkan yang biasanya tergantung pada paksaan langsung

Uang kertas 

Sekarang ini, akumulasi kekayaan sudah tidak hanya bergantung pada jumlah harta benda, atau klaim terhadap aset riil seperti properti, alat produksi seperti bangunan industri dan infrastruktur – atau bahkan manusia (seperti ketika di amerika masih berlaku sistem perbudakan, jumlah budak yang dimiliki menunjukkan ukuran kekayaan seseorang).

Ahli ekonomi thomas piketty menunjukkan bahwa banyak kekayaan pada literatur klasik yang kelihatannya berasal dari properti sewaan yang dipegang sejumlah orang. Tetapi akhir-akhir ini, sistem pecahan cadangan perbankan kita menunjukkan bahwa banyak dari suplai keuangan tidak ada pada bentuk fisik. Uang kertas hanyalah bagian kecil dari neraca perbankan, dengan kewajiban beban yang berbentuk hutang yang menghasilkan banyak keuntungan.

Salah satu temuan terhebat pada akhir abad ini, dan bahkan salah satu kunci terkait penyebab naiknya ke-tidak setara-an yang ditemukan oleh oxfam, adalah pertumbuhan industri aset tak berwujud yang dapat diperdagangkan dalam bentuk instrumen finansial. Bahkan, deregulasi pada industri finansial merupakan proses yang paling menonjol dan berpengaruh dalam naiknya ke-tidak setara-an beberapa tahun belakangan.

Masa setelah tekanan berat yang terjadi pada 1930an juga salah satu pembentukan ulang aturan. Aksi glass-steagal amerika pada 1933 menjaga perbankan komersil dan investasi agar tetap terpisah, sementara kontrol yang ketat tetap diupayakan pada transaksi asing di banyak negara eropa.

Tetapi selama akhir abad 20 banyak hal diatas yang telah memudar. Sebelum krisis finansial, peremajaan hipotek yang beresiko tinggi dan perdagangan berikutnya pada pasar finansial, menawarkan kesempatan emas bagi investor kelas kakap untuk mendapatkan keuntungan ketika membatasi rata-rata resiko kepada pemilik rumah. Kemungkinannya kecil sekarang ini untuk melebihi capaian pasar investasi, dari hipotek hingga emisi karbon, sampai spekulasi performa perusahaan di masa mendatang. Benar atau tidak dunia pernah se-tidak setara seperti sebelumnya, setidaknya kita bisa mengatakan bahwa kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan sekarang ini sangat berbeda jauh dari masa lampau.

Waktunya mengambil alih?

Bagian dari masalah dalam mengadakan ketepatan apakah dunia pernah se-tidak setara adalah dengan cara mengurangi datanya. Perkiraan paling bagus berasal dari penelitian penghasilan terbesar sedunia, yang paling awal adalah di inggris pada 1918. Dengan dasar ini setidaknya -dimana data bisa dibandingkan antar negara dan dimana cara perhitungan disetarakan – kita dapat mengatakan bahwa banyak hal hampir se-tidak setara ini sejak sebelum perang dunia ke dua.

Tetapi harusnya kita tidak membandingkan dasar nilai itu sendiri. Selebihnya, kita hampir dapat beralasan bahwa kehidupan dibawah paksaan langsung feodalisme, atau kekayaan yang dihasilkan melalui eksploitasi sumber daya alam dengan kolonisasi kerajaan tentu lebih disukai. Tetapi kilas balik sejarah manusia bertentangan dengan mitos umum tentang masyarakat yang kita tinggali sekarang. Milik kita bukanlah satu-satunya bentuk sejarah dari organisasi sosial, tidak juga urutan arus ekonomi yang ada diluar genggaman kita.

Jika kita dapat mengenali dengan jelas bagaimana keputusan diambil oleh pemerintah seputar perpajakan atau regulasi finansial, contohnya, telah menjadi wadah bagi kemunculan ke-tidak setara-an kekayaan, kemudian kita dapat lebih yakin bahwa masyarakat mempunyai potensi untuk mengubah hal ini. Dengan mengetahui faktor yang berlanjut untuk mengatur ke-tidak setara-an sekarang ini – dan mitos yang mengklaim bahwa dunia pasti harus menjadi seperti ini – yang berarti kita juga dapat meragukan hal ini.

source

Ingin jadi terkenal? ikuti beberapa aturan moral ringan berikut!!!

Bayangkan jika ada sebuah troli besar meluncur dengan cepat dan tanpa kendali ke arah lima orang. Dan kamu berada diatas jembatan tepat disamping orang yang berbadan besar. Jika kamu mendorongnya ke depan tepat kearah laju troli, maka tubuh besarnya akan dapat menghentikan troli tersebut sebelum mengenai kelima orang tersebut. Dia akan mati, tetapi lima yang lainnya akan selamat. Pertanyaannya, haruskah kamu mendorong orang tersebut ke jembatan? 

Sebelum kamu mengambil keputusan, kamu perlu tahu bahwa popularitasmu tergantung pada keputusan tersebut. Menurut penelitian terbaru kepada lebih dari 2.400 peserta, yang diadakan bersama david pizarro dari cornell university, cara seseorang dalam menjawab “masalah troli” mempunyai pengaruh besar pada seberapa banyak orang yang mempercayaimu. Kita bisa melihat beberapa kemungkinan yang ada. 

Kamu mungkin bisa berkaya iya; menyelamatkan 5 orang yang berbadan kecil dengan mengorbankan satu orang yang berbadan besar. Dan kamu tidak akan sendiri: kamu membuat keputusan moral bersama dengan “konsekuensialis” dari teori moralitas. Para konsekuensialis percaya bahwa kita harus bertujuan untuk memaksimalkan yang terbaik untuk jumlah orang yang paling banyak, bahkan jika hal ini mengakibatkan sedikit kerugian – contohnya dengan mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lima orang yang lainnya. 

Di sisi lain, kamu bisa berkata tidak; mengorbankan seseorang itu sudah suatu kesalahan, tanpa mengesampingkan konsekuensi positif apapun. Disini kamu membuat keputusan moral bersama para “deontologis” dari teori moralitas, yang lebih fokus pada aturan moral, hak dan kewajiban. Seperti prinsip “kamu jangan membunuh” dan “perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan oleh mereka” cocok untuk kategori ini. 

Mana yang kamu pilih? 

Dari data penelitian, kebanyakan orang menganggap bahwa mengorbankan satu orang dengan mendorongnya ke depan jembatan dan menyelamatkan lima yang lain adalah satu tindakan yang salah. Di satu tingkatan, hal ini masuk akal karena sungguh mengerikan untuk sekedar membayangkan dimana kita mengorbankan satu orang teman untuk satu analisa keuntungan biaya apakah kamu harus dikorbankan untuk kebaikan yang lain. Jadi mengapa kebanyakan orang lebih memilih pendekatan aturan ini daripada moralitas? 

Beberapa peneliti beralasan bahwa intuisi deontologis muncul dari timbal balik emosional yang “irasional”. Tetapi kiranya ada penjelasan yang lebih mendalam: yang disebut sebagai kekuatan popularitas. Kami mengira bahwa jika seseorang terpaku pada aturan moral yang dianggap sebagai sahabat yang lebih baik, yang mungkin bisa menjelaskan mengapa kebanyakan orang mengambil pandangan deontologis. 

Diluar masalah evolusi manusia, hal ini dapat dipakai pada salah satu jenis prinsip moral dari seluruh populasi. Jadi daripada merefleksikan pikiran yang irasional ataupun emosional, membuat penilaian moral yang berdasarkan aturan bisa jadi merupakan hal agak terbiasa dalam pikiran kita. 

Menuju tes 

Kami menguji hipotesis ini menggunakan beberapa variasi dari “masalah troli” dan menanyakan apakah seseorang yang membuat keputusan penilaian moral deontologis ataupun konsekuensialis dapat dijadikan sebagai sahabat. 

Selama lebih dari sembilan percobaan, kami menemukan bahwa orang yang mengambil pendekatan deontologis mengalami dilema (menolak untuk mengorbankan orang yang tidak bersalah, meskipun hal ini dapat menciptakan kondisi yang lebih baik) yang terlihat lebih dapat dipercaya daripada yang menganjurkan satu hal yang lebih fleksibel yaitu pendekatan konsekuensialis. 

Dan tidak hanya kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka akan lebih percaya kepada deontologis daripada konsekuensialis – mereka berani taruhan dalam hal ini. Ketika disuruh untuk mempercayakan uang kepada seseorang, peserta menyerahkan lebih banyak uang, dan yakin akan mendapatkannya kembali, ketika membuat persetujuan dengan orang yang menolak untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan yang lain, dibandingkan dengan seseorang yang memilih untuk memaksimalkan jumlah orang yang bisa diselamatkan. 

Tidak sesederhana itu 

Tetapi ini bukan cerita lengkapnya: hanya memilih apakah mengorbankan orang yang tak bersalah atau tidak bukanlah satu-satunya hal yang dipermasalahkan disini. Kami juga menemukan bahwa cara bagaimana keputusan tersebut diambil juga merupakan satu hal yang sangat penting. Seseorang yang telah memilih untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan lima orang – tetapi menemukan bahwa ini satu keputusan yang berat – lebih dipercayai daripada orang yang menganggap keputusan ini mudah. 

Dan hal tersebut bukanlah satu masalah dimana seseorang yang menolak untuk mengorbankan orang yang tak bersalah menjadi lebih dipercaya. Dimana orang yang dikorbankan menunjukkan keinginan khusus untuk hidup atau mati, orang akan menolong seseorang yang menghargai keinginan tersebut – bahkan jika harus membunuh. 

Temuan ini tidak hanya membantu menjelaskan bagaimana kita mendapatkan intuisi moral yang bisa kita lakukan, tetapi juga bagaimana peran penilaian moral di kehidupan. Hasil yang kita dapat bisa membantu menjelaskan mengapa kita sering tertarik kepada pemimpin politik yang membicarakan pesan sederhana yang berdasarkan aturan moral. 

Sebagai contoh, anggaplah seorang politisi yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja menjadi buruh di luar negri harus dihargai karena mereka sedang belajar untuk mandiri dan menciptakan usaha sendiri nantinya setelah kembali ke tanah air (pendekatan deontologis). Orang seperti ini sepertinya kelihatan lebih bermoral dan dapat dipercaya daripada orang yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja menjadi buruh di luar negri harus dihargai karena mereka telah menyumbang devisa kepada negara dan mencukupi kebutuhan keluarga di tanah air sehingga dapat meningkatkan perekonomian negara (pendekatan yang konsekuensialis) Jadi lain kali ketika berbicara dengan orang lain, ingat – orang menyukai seseorang yang mengikuti aturan moral. 

Sunday, April 10, 2016

Panama papers: seberapa sih bocoran data yang paling besar sedunia?

Bocoran data dengan jumlah lebih dari 11,5 juta dokumen yang didapat dari kantor hukum di panama, yang secara khusus menjadi bandar pajak bagi orang-orang berduit dari seluruh dunia, tanpa diduga telah disadap dan menjadi bocoran data terbesar sepanjang sejarah. 

Lebih dari 100 kantor berita diseluruh dunia telah mempublikasikan berita dengan sumber yang mereka sebut sebagai panama papers. Menurut jurnalis jerman, Suddeutsche Zeitung, orang yang pertama menerima bocoran data dengan jumlah 2,6 tera bit atau 2600 giga bit yang terdiri dari email, foto, dokumen pdf, file excel, dan database perusahaan, yang sebagian dibuat pada tahun 1970-an. 

Panama papers ini menunjukkan sejumlah kekayaan yang tersembunyi di lepas pantai dari otoritas pajak yang dimiliki ribuan klien dari kantor hukum tersebut, yang didalamnya termasuk urusan bisnis, kriminal, pemimpin politik, bintang olahraga dan selebritis. Informasi ini akan terus dirilis seiring dengan penelusuran yang dilakukan para jurnalis. Tetapi data sebesar 2,6 terabit ini, sebenarnya seberapa besar bocoran data yang pernah ditemukan sepanjang sejarah kita?. 

Menurut koran inggris The Guardian, 2,6 terabit panama papers ini terdiri dari sekitar 320.166 teks dokumen, 1,1 juta gambar, 2,15 juta file pdf, 3 juta database excel, dan 4,8 juta email. 
Tetapi meskipun sekarang ini kita dapat memasukkan semua data itu dalam satu hardisk seharga satu juta rupiah, sangat sulit untuk memperkirakan seberapa banyak informasi yang tersimpan didalamnya. Berikut beberapa perkiraan perbandingan tentang isi data tersebut: 
  • Jika kita mencetak semua data sejumlah 2,6 terabit data digital dengan pengaturan keluaran 2-byte karakter, 2000 karakter di setiap halaman, hasil akhir pencetakan akan berjumlah 650 juta lembar halaman, yang jika dihitung satu kejadian disetiap lembar dalam satu tahun kebelakang kita akan sampai pada jaman purba. 
  • Diperkirakan akan memakan waktu selama lebih dari 41 tahun jika kita mencetak semuanya dengan printer laser kantor tanpa henti, yang kertasnya akan menghabiskan setara satu hutan kecil dengan 80.000 pohon dan lebih dari 81.000 kartrid toner printer. 
  • Seluruh dokumen yang telah dicetak akan seberat 3.200 ton, dan memakan tempat 708 meter kubik. Dan jika dibuat menjadi satu tumpukan kertas akan menjadi setinggi lebih dari 65.900 meter 
  • Untuk mendownload data sebesar itu membutuhkan waktu 252 hari dengan 24 jam waktu download per hari dan memakai server yang memiliki kecepatan transfer data lebih dari 1 Mbps. Dan jika menggunakan koneksi internet rumahan dengan kecepatan setengahnya maka akan membutuhkan waktu lebih dari 16 bulan. 
Mengapa data nya sampai sebanyak itu? 

Sampai sekarang, bocoran data yang paling banyak seperti dokumen yang dibocorkan oleh WikiLeaks pada 2010 tentang serangan udara di Baghdad dan dokumen rahasia NSA yang dirilis oleh Edward Snowden pada 2013, semuanya berdasarkan pada satu waktu yang singkat. Tetapi pelaku pembocoran yang telah mengakses data di komputer Mossack Fonseca, kantor hukum panama, ini telah mengirim dokumen ke jurnalis selama lebih dari setahun, sebagaimana yang dilaporkan oleh The Guardian. 

11,5 juta dokumen dari Mossack Fonseca ini jumlahnya melebihi gabungan dari semua bocoran dokumen dari WikiLeaks, 60.000 dokumen sejak 2015 dari Swiss Leaks -yang merilis sejumlah besar skema pengaburan pajak, Luxembourg Leaks di tahun 2014 -yang berisi skandal keuangan di peraturan perpajakan luxembourg, dan Offshore Leaks di tahun 2013 -yang berisi penipuan pajak internasional, sesuai keterangan dari The Guardian. 

Tetapi meski kelihatannya Panama Papers ini adalah bocoran data yang terbesar yang dilakukan sejauh ini, bisa jadi ini bukan pembobolan data yang terbesar sepanjang sejarah. 

Menurut sebuah dokumen dari NSA yang dibocorkan oleh Snowden, pada tahun 2007 hacker cina telah mencuri 50 terabit data yang berisi dokumen rahasia dari militer amerika, termasuk didalamnya rencana F-35 Joint Strike Fighter, sebuah rancangan jet tempur. Dan pembobolan di Sony Pictures pada 2015, sebuah kelompok dari korea utara yang disebut “the Guardian of Peace” merilis 200 GB data yang di klaim total data yang telah dicuri adalah 100 TB, sebagaimana laporan dari CNN.