adv1

Monday, April 25, 2016

Ingin jadi terkenal? ikuti beberapa aturan moral ringan berikut!!!

Bayangkan jika ada sebuah troli besar meluncur dengan cepat dan tanpa kendali ke arah lima orang. Dan kamu berada diatas jembatan tepat disamping orang yang berbadan besar. Jika kamu mendorongnya ke depan tepat kearah laju troli, maka tubuh besarnya akan dapat menghentikan troli tersebut sebelum mengenai kelima orang tersebut. Dia akan mati, tetapi lima yang lainnya akan selamat. Pertanyaannya, haruskah kamu mendorong orang tersebut ke jembatan? 

Sebelum kamu mengambil keputusan, kamu perlu tahu bahwa popularitasmu tergantung pada keputusan tersebut. Menurut penelitian terbaru kepada lebih dari 2.400 peserta, yang diadakan bersama david pizarro dari cornell university, cara seseorang dalam menjawab “masalah troli” mempunyai pengaruh besar pada seberapa banyak orang yang mempercayaimu. Kita bisa melihat beberapa kemungkinan yang ada. 

Kamu mungkin bisa berkaya iya; menyelamatkan 5 orang yang berbadan kecil dengan mengorbankan satu orang yang berbadan besar. Dan kamu tidak akan sendiri: kamu membuat keputusan moral bersama dengan “konsekuensialis” dari teori moralitas. Para konsekuensialis percaya bahwa kita harus bertujuan untuk memaksimalkan yang terbaik untuk jumlah orang yang paling banyak, bahkan jika hal ini mengakibatkan sedikit kerugian – contohnya dengan mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lima orang yang lainnya. 

Di sisi lain, kamu bisa berkata tidak; mengorbankan seseorang itu sudah suatu kesalahan, tanpa mengesampingkan konsekuensi positif apapun. Disini kamu membuat keputusan moral bersama para “deontologis” dari teori moralitas, yang lebih fokus pada aturan moral, hak dan kewajiban. Seperti prinsip “kamu jangan membunuh” dan “perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan oleh mereka” cocok untuk kategori ini. 

Mana yang kamu pilih? 

Dari data penelitian, kebanyakan orang menganggap bahwa mengorbankan satu orang dengan mendorongnya ke depan jembatan dan menyelamatkan lima yang lain adalah satu tindakan yang salah. Di satu tingkatan, hal ini masuk akal karena sungguh mengerikan untuk sekedar membayangkan dimana kita mengorbankan satu orang teman untuk satu analisa keuntungan biaya apakah kamu harus dikorbankan untuk kebaikan yang lain. Jadi mengapa kebanyakan orang lebih memilih pendekatan aturan ini daripada moralitas? 

Beberapa peneliti beralasan bahwa intuisi deontologis muncul dari timbal balik emosional yang “irasional”. Tetapi kiranya ada penjelasan yang lebih mendalam: yang disebut sebagai kekuatan popularitas. Kami mengira bahwa jika seseorang terpaku pada aturan moral yang dianggap sebagai sahabat yang lebih baik, yang mungkin bisa menjelaskan mengapa kebanyakan orang mengambil pandangan deontologis. 

Diluar masalah evolusi manusia, hal ini dapat dipakai pada salah satu jenis prinsip moral dari seluruh populasi. Jadi daripada merefleksikan pikiran yang irasional ataupun emosional, membuat penilaian moral yang berdasarkan aturan bisa jadi merupakan hal agak terbiasa dalam pikiran kita. 

Menuju tes 

Kami menguji hipotesis ini menggunakan beberapa variasi dari “masalah troli” dan menanyakan apakah seseorang yang membuat keputusan penilaian moral deontologis ataupun konsekuensialis dapat dijadikan sebagai sahabat. 

Selama lebih dari sembilan percobaan, kami menemukan bahwa orang yang mengambil pendekatan deontologis mengalami dilema (menolak untuk mengorbankan orang yang tidak bersalah, meskipun hal ini dapat menciptakan kondisi yang lebih baik) yang terlihat lebih dapat dipercaya daripada yang menganjurkan satu hal yang lebih fleksibel yaitu pendekatan konsekuensialis. 

Dan tidak hanya kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka akan lebih percaya kepada deontologis daripada konsekuensialis – mereka berani taruhan dalam hal ini. Ketika disuruh untuk mempercayakan uang kepada seseorang, peserta menyerahkan lebih banyak uang, dan yakin akan mendapatkannya kembali, ketika membuat persetujuan dengan orang yang menolak untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan yang lain, dibandingkan dengan seseorang yang memilih untuk memaksimalkan jumlah orang yang bisa diselamatkan. 

Tidak sesederhana itu 

Tetapi ini bukan cerita lengkapnya: hanya memilih apakah mengorbankan orang yang tak bersalah atau tidak bukanlah satu-satunya hal yang dipermasalahkan disini. Kami juga menemukan bahwa cara bagaimana keputusan tersebut diambil juga merupakan satu hal yang sangat penting. Seseorang yang telah memilih untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan lima orang – tetapi menemukan bahwa ini satu keputusan yang berat – lebih dipercayai daripada orang yang menganggap keputusan ini mudah. 

Dan hal tersebut bukanlah satu masalah dimana seseorang yang menolak untuk mengorbankan orang yang tak bersalah menjadi lebih dipercaya. Dimana orang yang dikorbankan menunjukkan keinginan khusus untuk hidup atau mati, orang akan menolong seseorang yang menghargai keinginan tersebut – bahkan jika harus membunuh. 

Temuan ini tidak hanya membantu menjelaskan bagaimana kita mendapatkan intuisi moral yang bisa kita lakukan, tetapi juga bagaimana peran penilaian moral di kehidupan. Hasil yang kita dapat bisa membantu menjelaskan mengapa kita sering tertarik kepada pemimpin politik yang membicarakan pesan sederhana yang berdasarkan aturan moral. 

Sebagai contoh, anggaplah seorang politisi yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja menjadi buruh di luar negri harus dihargai karena mereka sedang belajar untuk mandiri dan menciptakan usaha sendiri nantinya setelah kembali ke tanah air (pendekatan deontologis). Orang seperti ini sepertinya kelihatan lebih bermoral dan dapat dipercaya daripada orang yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja menjadi buruh di luar negri harus dihargai karena mereka telah menyumbang devisa kepada negara dan mencukupi kebutuhan keluarga di tanah air sehingga dapat meningkatkan perekonomian negara (pendekatan yang konsekuensialis) Jadi lain kali ketika berbicara dengan orang lain, ingat – orang menyukai seseorang yang mengikuti aturan moral. 

arisk files

About arisk files

@canggahreso: nothing special

Subscribe to this Blog via Email :