adv1

Wednesday, March 29, 2017

pidato-akhlak yang mulia



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمْ, و أَرْسَلَ رُسُلُهُ لِيُتِمَّ أخْلَاقِ الْكَرِيمْ, وَ أَشْهَدُ أنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّه و أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهْ, اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٌ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ القِيَامَةْ, قالَ اللهُ تَعَال فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ: وَ لَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةْ ... أمَّا بَعْدُ 
Yang terhormat Bapak dan Ibu Guru... 
Yang terhormat Dewan Juri Lomba Cipta Teks Khitobah... 
Juga Hadirin dan Hadirat yang kami hormati... 

Pertama dan yang paling utama marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT sehingga kita masih bisa menjalankan segala aktifitas dengan lancar dan juga masih bisa bertemu dengan keluarga, sahabat, saudara, dan tetangga untuk selalu mengajak kepada kebaikan. 

Shalawat serta salam marilah selalu kita sanjungkan kepada Nabi terakhir di akhir zaman, Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita untuk selalu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. 

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah... 

Dalam kesempatan kali ini ijinkanlah saya untuk menyampaikan pidato tentang Akhlak yang mulia. 

Setiap hari setiap waktu di sekolah dan juga di rumah, kita selalu diajarkan untuk berbuat kebaikan. Kita biasa diajarkan melalui nasehat-nasehat, cerita, kisah, dan juga pelajaran yang sebagian tidak bisa ditemukan di bangku sekolah. Ya, belajar agar mempunyai akhlak yang mulia tidak akan cukup jika hanya belajar selama satu jam dua jam seperti matematika, tidak cukup sehari dua hari seperti kemah pramuka, dan tidak cukup setahun dua tahun seperti sekolah TK. Akan tetapi, belajar agar mempunyai akhlak yang mulia, haruslah dilakukan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun, dan jangan berhenti kecuali hilang nafas dari badan. 

Bapak dan Ibu yang berbahagia... 

Mengapa kita perlu belajar akhlak? Bukankah nanti tidak akan ada tes pelajaran akhlak di Ujian Nasional? Karena Rasulullah SAW pernah bersabda:

 الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ الإثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَ كَرِهْتَ أنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهْ 

“kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa atau kejelekan itu adalah apa yang meragukan hatimu dan engkau takut jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR. Muslim)

Sebenarnya agama islam menginginkan akhlak yang baik itu selalu ada pada diri pribadi umatnya dan perbuatan yang buruk itu hendaknya di buang jauh-jauh dari kehidupan keseharian kita. Dan juga inti dari ajaran agama kita adalah menjadikan akhlak yang baik sebagai sifat kita.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata “Agama secara keseluruhan adalah akhlak. Maka barangsiapa yang akhlaknya lebih baik darimu, berarti agamanya pun lebih baik darimu.”

 Hadirin dan Hadirat yang kami hormati...

Salah satu akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah adalah sifat jujur. Hakikatnya jujur adalah mengungkapkan kebenaran tanpa mengurangi ataupun menambahi. Sedangkan kebalikan dari sifat jujur adalah bohong, yaitu dengan mengungkapkan yang tidak sebenarnya atau dengan membuat cerita yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Satu buah kejujuran akan menumbuhkan kepercayaan orang lain kepada kita.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW pernah diberi gelar Al-Amin yang artinya dapat dipercaya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Sedangkan satu buah kebohongan akan mengantarkan kita pada kebohongan yang lain sehingga menambah dosa kita. Sebagaimana ungkapan “hanya yang tidak dilakukan, yang bisa disembunyikan’’ saya ulangi lagi “hanya yang tidak dilakukan, yang bisa disembunyikan”.

Jadi pada dasarnya kita tidak bisa menyembunyikan perbuatan baik ataupun buruk yang telah kita lakukan. Sebagaimana yang dikatakan simbah “becik ketitik, ala ketara”

Jadi Bapak dan Ibu yang saya hormati...

Akhlak yang mulia akan mengantarkan kita kepada kebaikan yang lain. Dan juga sebaliknya keburukan juga akan mengantarkan kepada keburukan yang lain. Jangan sampai kita berbicara ini itu seperti pejabat mau naik pangkat jadi wakil rakyat tetapi setelah jadi wakil mereka lupa dengan orang-orang yang diwakili. Ibarat orang yang lomba panjat pinang ketika di sampai diatas bersama puluhan hadiah yang bergelantungan dia lupa dengan empat lima orang yang sudah dia injak dibawahnya.

Jika kita jujur maka orang lain akan percaya kepada kita, tetapi jika kita sering berbohong maka orang lain tidak akan pernah percaya meskipun suatu ketika kita berkata benar. Karena jika seseorang tidak bisa dipercaya dalam hal-hal kecil, maka dia juga tidak bisa dipercaya dalam hal yang besar.

Dalam hal ini Albert Einstein pernah berkata “Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted with important matters.” Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berbuat kebaikan karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan nantinya akan mendapat balasannya dan juga keburukan sekecil apapun juga ada balasannya

 فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهْ, وَ مَنْ يَعْمَل مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرَّا يَرَهْ 

Akhir kata ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Nonton tari tujuh belasan, hanya juri yang dapat jajan. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kekurangan, semoga apa yang telah kita usahakan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kita dan apa yang kita tinggalkan merupakan keburukan bagi kita, aamiin yaa rabbal aalamiin

 وَ بِاللهِ تَوْفِيقْ وَ الْهِدَيَةْ وَ الرِّضَى وَ الْإنَيَةْ السَّلَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Tuesday, March 28, 2017

khutbah-rugi



الْحَمْدُ لِلَّهْ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهْ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاتِ أعْمَالِنا، مَن يَهْدِهِ الله فَلا مُضِلَّ لَه ومن يُضْلل فلن تجد له ولياً مرشداً. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ
فَيَاعِبَادَ الله أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah Jum’ah rahimakumullah
Marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sholawat serta salam marilah selalu kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW dan marilah kita selalu berusaha untuk meneladani sunnah-sunnah beliau.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Jamaah jumah rahimakumullah
Satu nikmat dari Allah yang sangat besar bagi kita adalah waktu, atau umur. Hingga kini kita masih bisa hadir di majlis yang mulia ini untuk beribadah kepada Allah SWT. sebagaimana kita lihat disekeliling kita, orang-orang datang dan pergi, ada manusia baru yang lahir datang ke dunia, dan ada generasi lama yang pergi meninggalkan dunia. Belum lama juga KH. Hasyim Muzadi telah meningal dunia. Jatah hidup kita di dunia tidak lama. Oleh karena itu, agar kita tetap waspada, marilah kita selalu mengingat firman allah dalam surah al ashr tersebut.
Kemudian, siapa sebenarnya yang rugi? Apakah mereka yang berdagang di pasar kemudian tidak mendapatkan laba?. Apakah mereka yang sudah belajar satu buku kemudian tidak bisa mengerjakan 10 soal ujian?. Apakah mereka yang kehilangan harta bendanya? Kehilangan pekerjaannya? Kehilangan keluarganya?
Jamaah jumah rahimakumullah
Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. Kerugian itu ada dua macam:
Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.
Yang kedua, kerugian dari sebagian sisi, bukan yang lainnya. Allah mengglobalkan kerugian pada setiap manusia, atau dengan kata lain semua orang itu rugi, orang melakukan apapun di dunia itu rugi, kecuali orang yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

1- Mereka yang Memiliki Iman

Yang dimaksud dengan orang yang selamat dari kerugian yang pertama adalah yang memiliki iman. Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perintah beriman kepada Allah dan beriman kepada-Nya tidak diperoleh kecuali dengan ilmu. Iman itu diperoleh dari ilmu. Sebagaimana dikatakan “barang siapa yang ingin mendapatkan dunia, maka harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin mendapatkan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang ingin keduanya maka juga harus dengan ilmu”
Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata bahwa iman di dalamnya harus terdapat perkataan, amalan dan keyakinan. Keyakinan (i’tiqod) inilah ilmu. Karena ilmu berasal dari hati dan akal. Jadi orang yang berilmu jelas selamat dari kerugian.

2- Mereka yang Beramal Sholeh

Yang dimaksud di sini adalah yang melakukan seluruh kebaikan yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunnah.

3- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kebenaran

Yang dimaksud adalah saling menasehati dalam dua hal yang disebutkan sebelumnya. Mereka saling menasehati, memotivasi, dan mendorong untuk beriman dan melakukan amalan sholeh. Bukan saling memberi jawaban kepada teman ketika ujian. Bukankah tujuan dari ujian yang sebenarnya adalah untuk membuat diri kita bernilai, bukan untuk mencari nilai. Jangan hanya belajar untuk ujian, tetapi jadikan ujian sebagai pembelajaran
الَيْسَ بِالْإمْتِحَانُ يُكْرَمُ المَرْءُ أوْ يُهَانُ
“bukankah dengan ujian itu, seseorang bisa menjadi mulia ataupun menjadi hina”

4- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kesabaran

Yaitu saling menasehati untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat, juga sabar dalam menghadapi takdir Allah yang dirasa menyakitkan. Karena sabar itu ada tiga macam: (1) sabar dalam melakukan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat, (3) sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.

Jamaah Jumah rahimakumullah

Akhirnya, marilah kita selalu berusaha untuk meningkatkan taqwa kita kepada Allah dengan keempat hal tersebut. Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar.”
Kita bisa belajar dari kunjungan Raja Salman ke Indonesia tempo hari. Mengapa saudi yang wilayahnya tidak seluas Indonesia, yang tanahnya kering dan gersang, penduduknya sedikit, peringkat militernya di angka 24 sedangkan Indonesia ada di peringkat 14 sedunia. Akan tetapi mereka bisa berinvestasi di Indonesia dengan nilai yang fantastis.
Ada satu perbedaan yang mendasar adalah yang kita lakukan ketika adzan berkumandang. Sesekali mampirlah ke saudi dan lihatlah pasar ketika waktu sholat, semua pedagang menutup tokonya. Datanglah ke supermarket 30 menit sebelum waktu sholat, agar disuruh datang lagi nanti setelah sholat. Dan lihatlah masjid penuh jamaah seperti jamaah sholat jumat.
Semoga sebagai wujud pengamalan ilmu kita. Kita selalu bisa berusaha untuk sholat berjamaah dimasjid, kemudian mengajak keluarga, kerabat, dan teman. Dan bersama mereka secara konsisten menjalankan perintah allah yang lain.
Karena, Seandainya Allah menjadikan hujjah hanya dengan surat Al ‘Ashr ini, maka itu sudah menjadikan hujjah kuat pada manusia. Jadi manusia semuanya berada dalam kerugian kecuali yang memiliki empat sifat: (1) berilmu, yakni beriman (2) beramal sholeh, (3) berdakwah, dan (4) bersabar. Sebagaimana Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.”


باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أقول قولي هذا وأستغفرالله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات. فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.







Khutbah kedua
الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى لِبَاسُ الصَّالِحِيْنْ، أشْهَدُ أنْ لَا إلَهَ إلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، لَهُ المَالِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْن،  وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه،  اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْن. أما بعد،
فَيَا أيُّهَا النَّاسْ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَتَمْسِكُوْا بِمَا شَرَعَ اللهُ لَكُمْ ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدْ وَعَلَى أنْبِيَائِكَ وَرَسُلِكَ وَأهْلِ طَاعَتِكَ أجْمَعِيْنْ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤمِنِيْنَ وَالْمُؤمِنَاتْ وَالْمُسْلِمِيَنَ وَالمُسْلِمَاتْ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتْ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتْ وَيَا قَاضِيَ الحَاجَاتْ، وَغَافِرُ الذُّنُوْبَ وَالْخَطِيْئَاتْ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
رَبَّنَا إنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيَا يُنَادِيْ لِلْإيْمَانْ أنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا . رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأبْرَارْ. اللّهُمَّ اجْعَلْ بِلَدَنَا وَجَمِيْعِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ  آمِنًا مُطْمَئِنَّا وَارْزُقْ أهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ  مِنْهُمْ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأخِرْ. اللَهُمَّ انْصُرِ الْإسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنْ وَأهْلَكَ الْكُفْرَةَ وَالمُشْرِكِيْنْ وَدَمِّرْ أعْدَاءَكَ أعْدَاءَ الدِّيْنْ.
اللَّهُمَّ يَا عَليمُ عَلِّمْنَا وَفَهِّمْنَا اللهُمَّ افْتَحْ عُقُوْلَنَا فُتُوْحَ العَارِفِيْن وَافْهَمْنَا فَهْمًا النَّبِيِّنْ وَاجْعَلْنَا أئمَّة للْمُؤمِنِين
اللّهُمَّ إنّنَا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ونَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلَ وَنَعُذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
رَبَّنَا أوزِعْنَا أنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ التي أنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدَيْنَا وَأن نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَه وَ أصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّتِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارْ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمْ.
عِبَادَ الله إنَّ الله يَأمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانْ وَإيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ والمُنْكَرِ وَالْبَغِي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن.
أقيموا الصلاة.